puisi

ultah bunda

Sang waktu melangkah berirama..

Mentari pagi tersenyum bahagia..

Burung~burung bernyanyi riang~gembira..

Di hari indah yg sangat berharga..

Untukmu Bunda..

Ku sulam kain kata~kata..

Ku rangkai bait~bait syair..

Sebagai hadiah ulang tahun mu..

Untukmu Bunda..

Ku ucapkan selamat ulang tahun..

Doa ku semoga kau panjang umur..

Selalu bahagia sepanjang masa..

Sekalipun selama ini aku tidak pernah berkata..

“Aku menyayangimu..”

Bukan berarti ku tak mengasihimu..

Kasih sayangmu begitu besar..

Sehingga tak bisa ku ungkapkan dengan kata~kata..

Bunda.. aku sangat Menyayangimu..

Mencintaimu & selalu..

Merindukan mu..

I LOVE YOU..

Puisi ini buat Bunda ku yg lagi Ultah..

Ucpannya met

Ulang Tahun yach Bunda.. ^_^

malam

malam………..

sunyi yang menyakam hatiku aku terpasung diam dan kaku

saat pena mulai bicara menggores setiap lembar hidupku……..

goresan bukan berarti menyakiti hanya untaian kata yang tersirat

siapa yang salah dikala benar jadi salah

di saat salah jd benar di mana keadilan ini

aku di sini sendiri dalam diam

tak sanggup berucap hanya bisa menanti

aku tak bisa bergerak nadipun terasa berehenti

nafaspun tak mengalir lagi dan hampir mati..

bidadari

Ukhti…

Inginkah kau menjadi bidadari ?

Bersanding dengan para wanita yang utama

Yang pernah tertulis dalam sejarah kehidupan manusia

Ukhti…

Inginkah kau menjadi bidadari ?

Layaknya Haula bin Jatsi

Yang tuntutan dan doanya tercatat dalam Al-Qur’an

Bukti cinta dan kedekatannya dengan Rabbnya

Ukhti…

Inginkah kau menjadi bidadari ?

Layaknya Aisyah r.a

Wanita mulia penghafal Al-Qur’an

Yang kecerdasan dan keilmuannya

Saksi perjuangan pengemban risalah

Ukhti…

Inginkah kau menjadi bidadari ?

Layaknya Ummu Sulaim

Yang kesabarannya menjadi saksi

sebaik-baik perhiasan dunia

Istri sholehah

Ukhti…

Inginkah kau menjadi bidadari ?

Kulihat anggukan tegas dari kepalamu

Kulihat binar mata di wajahmu

Kurasakan gelora hamasah di jiwamu

Kau pasti ingin menjadi bidadari…

Apakah ini hanya anganmu atau citamu

Apakah ini hanya mimpi atau orbit khayalmu

Karena bidadari

Tak kenal lelah berinteraksi dengan beratnya da’wah

Tak kenal menyerah dalam ketaatan pada RabbNya

Tak mau berpisah dengan surat cinta dari Nya

Ukhti…

Kuharap kita masih ingin menjadi bidadari

Sebesar apapun harga yang harus dibayar

Seberat apapun tadhiyah yang kita korbankan

Kita akan terus berjihad

Tak kenal henti

Berbekal semangat Al-Qur’an

Dustur penerang jiwa

Maju kehadapan

Mujahidah bidadari sejati

Ukhti

Menjadilah bidadari cahaya

Yang lisannya adalah Al-quran

Yang kegemarannya adalah tilawah

Yang cintanya adalah hafalan

Yang hidupnya dibawah naungan Al-Qur’an

Meretas dalam iman

Menjadi bidadari cahaya

Baiti jannati

Karena mujahid

Hanya akan lahir dari rahim-rahim mujahidah

Hanya akan tsabat dengan dukungan seorang istri mujahidah

Hanya akan teguh dengan patner da’wah mujahidah

[azsya]

Yang bercita-cita punya jundi hafidz-hafidzhoh

Yang hanya akan tercapai dengan pembinaan seorang ummi hafidzhoh

bunda….

Bunda…

Kali ini aku mohon

Hapuslah air matamu

Ubahlah tangis itu

Tersenyumlah dengan manis untukku

Bunda

Cukup sudah air mata yang mengalir untukku

Saatnya kita banyak menangis untuk umat

Waktunya kita menangisi kepedihan Islam

Bunda….

Jika kau menangis karena aku harta terbesarmu

Maka menangislah saat aku jauh dariNya

Tapi tersenyumlah kali ini

Karena kau telah menginfakkan harta terbesarmu

dijalanNya

Bunda….

Jadilah Nusaibahku

Yang tak gentar mendorong anaknya berjuang

Meski dalam luka yang dalam dan darah yang mengalir

Baginya kemenangan Islam adalah tujuan yang utama

Dan kesyahidan adalah jalan yang terpilih

Bunda…

Entah berapa waktu yang menjadi hakmu yang kerap terabai

Dalam kesibukan dan hari-hariku

Semoga infaqmu menjadi berkah

Semoga tadhiyahmu menjadi energi

Cahaya bagi setiap langkah perjalanan da’wah ini

Bunda…

Apapun yang terjadi padaku

Aku telah berjanji

Menjual diri, ruh, dan jasad ini

Pada perdagangan yang paling mulia

Maka sampai kapanpun

Takkan ada yang sanggup menghentikan langkahku

Hingga kemenangan Islam atau kesyahidan menjadi milikku

Bunda….

Aku ingin suatu hari nanti

Ketika tidak ada seorang penolongpun

Ketika semua amalan dihisab

Kau bangga padaku

Dan Alloh berkenan menjadikanmu bidadari surgaNya

Bunda…

Aku tahu aku bukanlah anak yang terbaik

Namun bagiku

Kaulah bunda terbaik yang Dia berikan untukku

Terima kasih

Karena kau Bunda nusaibahku

Teruntuk bunda tersayang

Kali ini aku akan berjiddiyah lebih kuat tuk membawamu bersama da’wah ini. Memahamkan mama akan dien ini. Karena ku tahu kau telah mengorbankan banyak hal. Maka tarbiyah adalah hakmu.Menjadikan kesholihan jamaah di rumah kita adalah kewajibanku.Karena kau bidadariku…sambutlah seruan jihad ini…Semoga Allah SWT berkenan memasukkan kita berdua di jannahNya

“Uthlubul hawa-ij bi’izzatil anfus, fainnal umuura bil maqoodir” Artinya: “Carilah kebutuhan hidup dengan tetap menjaga kemulyaan jiwa. Sesungguhnya semua perkara itu bergulir dengan taqdir Allah SWT.”

Dimana   kulahirkan kata

Diam masih kupetik melodi hati

Sunyi lebih terdengar denting

Namun masih saja…

Aku merancang naskah malam

Mataku kuletak melukis wajah silam

Kulihat hangusnya jiwa masih mengepul api

Hingga arangnya jadi abu bertebaran debu

Disebar di pinggir pantai mengantar kematian cinta

Menjadi berkeping-keping rasanya tumpukan kenangan

Hilang terbayang bayang dalam doa penantian

Dalam ukiran sepi yang memahat hati

Yang selalu tertulis dalam setiap naskah malam

Naskah yang tek pernah usai…..

Allahu Rabbi aku minta izin
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang
Hingga membuat lalai akan adanya Engkau

Allahu Rabbi
Aku punya pinta
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas
Biar rasaku pada-Mu tetap utuh

Allahu Rabbi
Izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta
Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan kasih-Mu
dan membuatku semakin mengagumi-Mu

Allahu Rabbi
Bila suatu saat aku jatuh hati
Pertemukanlah kami
Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu

Allahu Rabbi
Pintaku terakhir adalah seandainya kujatuh hati
Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku
Anugerahkanlah aku cinta-Mu…
Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu. Amin….!

Kupakai cakrawala untuk menggambar sore itu

Lalu kubingkai segi empat persegi
Meski habis warna cakrawala untuk melukis
Tetap saja tak mampu mengnungkap kelam hati
Tak cukup kuberlabuh di tepi kenangan
Telah kusapa dedaunan pantai bergoyang
Dan kulambai pada tiup angin melintas
Namun hanya ada merah jingga kian merona jiwa
Hingga gelap bermain dengan bintang
Dan masih saja kulukis senja kelabu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: